“Latihan harus dilakukan terus-menerus dan berkesinambungan. Kesehatan peserta juga harus menjadi perhatian,” katanya.
Ia mengibaratkan MTQ sebagai kompetisi besar yang membutuhkan strategi matang layaknya ajang olahraga internasional. Para pelatih diminta mampu memetakan potensi peserta dan menetapkan target yang realistis pada setiap cabang perlombaan.
Sementara itu, Kasubdit Lembaga Tilawah dan MTQ Kementerian Agama, Rijal Ahmad Rangkuty, menekankan pentingnya sinkronisasi antara panitia pusat dan daerah, terutama terkait tugas panitera dan master of ceremony (MC).
Menurut Rijal, panitera memiliki peran penting dalam memastikan peserta yang tampil sesuai dengan nomor urut yang telah ditetapkan. Karena itu, koordinasi teknis akan terus diperkuat melalui pertemuan khusus antara panitia pusat dan daerah.
Selain aspek teknis perlombaan, panitia juga diminta memastikan pelayanan tamu, pendampingan liaison officer (LO), serta kesiapan venue berjalan optimal. Pengalaman dari penyelenggaraan MTQ sebelumnya diharapkan menjadi bahan evaluasi guna mengantisipasi berbagai kendala.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah, Saiful Mujab, mengatakan pihaknya juga tengah mempersiapkan peluncuran logo dan maskot MTQ Nasional XXXI yang dijadwalkan berlangsung pada 25 Juni 2026 di Masjid Agung Jawa Tengah.
Menurut Saiful, seluruh jajaran Kementerian Agama kabupaten/kota dan Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) di Jawa Tengah telah dihimpun untuk menyamakan langkah dalam menyukseskan perhelatan nasional tersebut.


